Telegram Web
Mutiara Sirah Nabawiyah ke-10

Pernikahan Muhammad Dengan Khadijah

1. Peristiwa ini terjadi saat Muhammad menginjak usia 25 tahun. Khadijah merupakan saudagar perempuan yang kaya raya, cantik, pandai, terhormat, dan mulia. Oleh sebab itu, banyak laki-laki terpandang yang berniat menikahi Khadijah namun semua ditolaknya.

2. Khadijah sudah mendengar informasi tentang Muhammad yang terkenal jujur, amanah, dan berakhlak mulia. Sehingga dia tertarik menawarkan kerja sama kepada Muhammad untuk memasarkan barang dagangannya ke Negeri Syam. Muhammad pun menerima tawaran tersebut.

3. Untuk membuktikan kualitas kepribadian Muhammad, Khadijah mengutus pembantu laki-lakinya bernama Maisarah untuk ikut menemani Muhammad. Pengutusan Maisarah ini menunjukkan Khadijah memiliki sifat teliti dan tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan. Semua informasi yang didapat perlu diverifikasi secara langsung. Karena sesungguhnya dengan melakukan perjalanan bersama seseorang, maka akan mengetahui watak dan akhlak yang sebenarnya. Bahkan hal yang tersembunyi dapat tersingkap.

4. Hasilnya, Muhammad membawa pulang keuntungan yang sangat besar. Bahkan, jika dibandingkan dengan pedagang lain yang juga bermitra dengan Khadijah. Selain itu, Maisarah juga menceritakan kepada Khadijah apa yang dia lihat selama perjalanan tentang kemuliaan budi pekerti Muhammad.

5. Semua hal tersebut mendasari keputusan yang diambil oleh Khadijah. Dalam diri Khadijah muncul rasa kecenderungan untuk menikahi Muhammad. Saat itu Khadijah berumur 40 tahun dan sebelumnya telah menikah dua kali.

6. Khadijah meminta tolong melalui teman perempuannya untuk mengutarakan niatnya kepada Muhammad. Kemudian Muhammad pun menerima tawaran untuk menikah dengan Khadijah. Dalam pernikahan itu, Muhammad memberikan mahar berupa dua puluh ekor unta.

7. Tidak termasuk aib bagi seseorang perempuan salihah untuk mengungkapkan keinginannya menikah dengan seorang lelaki yang dipandang saleh. Inilah yang dilakukan Khadijah. Kisah ini memberikan pelajaran tentang pentingnya para wali untuk menikahkan anak perempuannya walaupun dengan cara menawarkan diri.

8. Khadijah merupakan perempuan istimewa dari segi kedudukan, kemuliaan, dan kecantikannya. Ditambah lagi, cinta Rasulullah kepada Khadijah merupakan anugerah yang diberikan Allah. Seperti sabda beliau, "Saya telah dikaruniai kecintaan kepadanya."

9. Khadijah merupakan perempuan pertama yang dinikahi Rasulullah. Selama menjadi suami dari Khadijah, beliau tidak menikah lagi dengan perempuan mana pun. Sampai akhirnya Khadijah wafat di usia 65 tahun, tepatnya pada tahun kesepuluh kenabian. Sehingga usia pernikahan beliau dengan Khadijah ialah 25 tahun.

10. Dari pernikahan dengan Khadijah, Rasulullah dikaruniai 6 orang anak terdiri dari 2 laki-laki dan 4 perempuan. Mereka adalah Qasim, Abdullah, Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, dan Fatimah. Semua putra Rasulullah meninggal saat masih kecil. Sedangkan putri-putri beliau tumbuh sampai dewasa bahkan semua memeluk Islam dan ikut berhijrah. Namun, semua putrinya meninggal semasa beliau masih hidup, kecuali Fatimah yang wafat enam bulan setelah wafatnya Rasulullah.

11. Pernikahan agung ini mempertemukan seorang perempuan terhormat yang senantiasa terpelihara kesuciannya dengan seorang lelaki jujur dan terpercaya, yang kelak melahirkan keturunan yang saleh dan salihah.

Wallahu'alam.

***Dari Mutiara Sirah Nabawiyah ke-10 jika ada pertanyaan atau diskusi bisa disampaikan melalui kolom komentar.
Mutiara Sirah Nabawiyah ke-11

Muhammad Menyelesaikan Konflik Hajar Aswad

1. Muhammad pada usia 35 tahun sudah eksis di masyarakat dan kedudukannya sangat diperhitungkan. Hal ini terbukti dari posisi beliau bisa menjadi tokoh pemersatu dalam menyelesaikan masalah besar di Quraisy.

2. Saat itu bangunan Kabah mengalami kerusakan yang disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya karena memang usia bangunan sudah cukup tua karena terakhir ditinggikan pada masa Nabi Ibrahim dan juga akibat banjir besar di Mekkah yang mengakibatkan dinding Kabah rusak. Sehingga Quraisy memutuskan Kabah perlu direnovasi.

3. Orang-orang Quraisy berhasil menunaikan tugas membangun kembali Kabah dengan membagi tugas sesuai kabilah masing-masing. Termasuk Muhammad ikut terlibat dalam proses pembangunan tersebut. Ketika renovasi sudah memasuki tahap akhir terjadi perselisihan diantara para kabilah Quraisy, yaitu tentang siapa yang paling berhak mengembalikan Hajar Aswad di posisi semula. Sebab semua kabilah merasa paling berhak meletakannya karena ingin memperoleh kemuliaan.

4. Selama kurang lebih 5 hari mereka tidak kunjung mendapat solusinya. Situasi menjadi semakin tidak kondusif. Bahkan sudah terlihat tanda-tanda akan terjadi peperangan diantara kabilah Quraisy. Sampai akhirnya tokoh paling tua diantara mereka bernama, Abu Umayyah bin Al-Mughirah, menyampaikan pendapatnya untuk menjadikan seseorang yang pertama kali keluar dari sebuah jalan di kota Mekah ditunjuk menjadi penengah perselisihan. Mereka menyepakati pendapat itu lalu menunggu siapa orang yang akan muncul untuk menyelesaikan konflik ini.

5. Atas izin Allah, ternyata Muhammad orang yang pertama kali muncul. Maka, orang-orang Quraisy berkata, " Lihatlah, kita telah kedatangan orang yang sangat bisa dipercaya." Selanjutnya, mereka menceritakan permasalahannya kepada Muhammad. Kemudian Muhammad membentangkan kain lalu mengambil Hajar Aswad dan meletakannya di atas kain itu. Setelah itu, beliau memanggil seluruh kepala kabilah untuk memegang setiap ujung kain dan bersama mengangkat Hajar Aswad mendekati Kabah. Kemudian, Muhammad mengambil Hajar Aswad dengan kedua tangannya dan meletakannya ke tempat semula. Dengan demikian terhindarlah orang-orang Quraisy dari pertumpahan darah sesama mereka.

6. Keterlibatan Muhammad sejak muda dalam kegiatan di masyarakat mengasah kematangan pribadinya saat dewasa. Hal ini terlihat saat beliau memberikan jalan keluar yang tidak pernah terpikirkan oleh kaum Quraisy. Bahkan, ide dari Muhammad membuat semua kabilah merasakan keterlibatan dalam meletakkan Hajar Aswad. Hal ini menunjukkan pentingnya sejak muda sering mengikuti kegiatan masyarakat agar terbiasa mencari solusi dari permasalahan di masyarakat.

7. Menjaga nama baik pribadi sehingga menjadikan orang lain terkesan dengan kepribadian kita ialah perihal penting, karena ini adalah prinsip dasar seorang da'i. Sebab hal inilah yang menjadikan orang lain mau mendengarkan apa yang kita katakan. Namun, ini memerlukan waktu yang tidak sebentar, maka perlu mencicil pembentukan kapasitas diri dan karakter sejak usia muda.

8. Persitiwa ini merupakan bekal yang diberikan Allah kepada Muhamad sebelum mengemban risalah kenabian. Ibarat sebuah studi kasus di lingkup kecil terlebih dahulu sebelum menghadapai permasalahan dalam lingkup lebih besar. Sebab orang yang dapat mempersatukan kabilah yang hampir berperang pada hari itu, kelak akan menjadi Nabi yang dapat mempersatukan semua bangsa Arab. Bahkan, dapat menyatukan mereka dengan umat lainnya di bawah bendera Islam.
9. Betapa tinggi kedudukan Muhammad di tengah para pembesar Quraisy. Mereka tidak meragukan kejujuran, kemuliaan akhlak, dan ketulusan ketika dimintai pertolongan. Namun, ketika Muhammad diutus sebagai Nabi kaum Quraisy ramai-ramai mendustakan dan juga memusuhinya. Hal ini memberikan pelajaran kepada kita bahwa Rasulullah dengan kepribadian mulia saja masih dapat penolakan, apalagi jika kita berdakwah tetapi tidak memiliki kepribadian yang baik. Bagaimana orang lain mau percaya dengan pesan-pesan kebaikan yang kita bawa, jika kesan pertama melihat diri kita saja tidak meninggalkan kesan baik.

Wallahu'alam.

***Dari Mutiara Sirah Nabawiyah ke-11 jika ada pertanyaan atau diskusi bisa disampaikan melalui kolom komentar.
Via Al-Qur'an Indonesia https://quran-id.com
Teman-teman bisa berbagi kutipan ayat Al-Quran dengan berbagai tampilan menarik menggunakan Apps tersebut. Apps bisa didownload melalui link di atas.

Ramadhan semakin dekat, mari kita saling berbagi info aplikasi apa saja yang bermanfaat untuk mengoptimalkan ibadah kita di bulan Ramadhan nanti.

Silakan teman-teman bisa share link aplikasi dan penjelasan singkat pada kolom komentar di bawah ini. Semoga Ramadhan ini handpone kita sibuk dengan syiar kebaikan dan ibadah. ๐Ÿ˜Š
Mutiara Sirah Nabawiyah ke-12

Menjelang Turunnya Wahyu Pertama

1. Mendekati risalah kenabian tepatnya ketika usia Muhammad 37-40 tahun, beliau mendapati kesenangan untuk mengasingkan diri di Gua Hira. Hal ini dilakukan sebagai bentuk perenungan beliau atas apa yang terjadi di masyarakat Mekkah, yakni banyaknya praktik kemusyrikan yang berlawanan dengan hati nuraninya.

2. Dalam rentang waktu 3 tahun, selama satu bulan penuh di setiap bulan Ramadhan, Muhammad mengisi waktunya untuk beribadah, memikirkan keagungan alam, dan berupaya mencari solusi dari permasalahan yang terjadi di masyarakat Quraisy.

3. Pilihan beliau untuk menyendiri merupakan bagian dari pengaturan Allah agar terputus sejenak dari kesibukan duniawi. Hal ini menjadi bekal penting bagi Muhammad untuk mengemban amanah agung yang menantinya.

4. Terdapat dua pelajaran pentingnya mengalokasikan waktu khusus untuk menyendiri dalam kehidupan seorang muslim: 1) Mengenal kekurangan diri berupa sifat-sifat buruk, kemudian beristighfar dan bertaubat untuk kembali kepada Allah. 2) Berdzikir mengingat Allah untuk mendekatkan diri kepada-Nya, mengingat hari akhir, surga, dan neraka. Semua hal tersebut yang bisa mengantarkan kita untuk kembali dalam ketaatan dan jauh dari kemaksiatan.

5. Di dalam kehidupan seringkali kita menghadapi permasalahan yang sangat pelik hingga membuat diri resah dan terus memikirkannya. Jika solusi tidak kunjung datang, salah satu cara untuk menghadapinya yaitu dengan cara mengambil jarak baik secara ruang maupun waktu. Terkadang, selama posisi kita masih berada dekat dengan masalah, kita menjadi bagian dari kompleksitas masalah tersebut. Perlu keberanian untuk sejenak menjauh dari permasalahan agar kita bisa melihat solusinya dengan lebih jernih.

6. Setiap harinya, Allah memberikan waktu khusus bagi setiap muslim menyendiri untuk menjauh sejenak dari aktivitas sehari-hari. Waktu tersebut di sepertiga malam terkahir dengan melakukan qiyamullail tatkala manusia lain sedang tidur. Qiyamullail dan tilawah Al-Quran ialah bentuk menyendirinya seorang muslim sebagai bekal untuk menyampaikan nilai-nilai Islam di masyarakat.

7. Dengan izin Allah, kita akan memasuki Ramadhan tahun ini. Alangkah baiknya kita memanfaatkan momen bulan suci ini, terutama di sepuluh malam terakhir. Beritikaf merupakan kesempatan berharga untuk merenungi permasalahan yang dialami umat ini, mengintrospeksi kekurangan diri, mengevaluasi kualitas amal-amal kita, dan mengingat janji-janji Allah bagi orang-orang beriman. Harapannya, setelah Ramadhan kita memiliki pola pikir baru yang lebih segar untuk bekal kembali ke masyarakat memberikan berbagai macam solusi dari permasalahan kehidupan.

Wallahu'alam.

***Dari Mutiara Sirah Nabawiyah ke-12 jika ada pertanyaan atau diskusi bisa disampaikan melalui kolom komentar.
SUDAH SATU TAHUN

Teringat Ramadhan tahun lalu berbeda. Tarawih di masjid ditiadakan. Berbuka puasa terbatas bersama keluarga. Solat Idul Fitri dilakukan berjamaah di rumah. Saat itu terpanjat doa semoga tahun depan dapat bertemu kembali dengan Ramadhan dalam kondisi normal.

Tak terasa sudah satu tahun berlalu. Kurang dari satu minggu lagi Ramadhan kembali menyapa. Ternyata kondisi belum sepenuhnya normal. Tarawih masih dibatasi. Berbuka puasa masih terbatas. Solat Idul fitri juga dengan prokes yang ketat. Namun, bagaimana pun kondisinya keberkahan bulan mulia ini tetap dinanti. Di tengah ujian pandemi, kami berharap diberikan umur berjumpa dengan bulan suci.

Dosa kami masih banyak, kami butuh ampunan-Mu.
Bekal amal kami belum cukup, kami butuh lailatul qadar-Mu.
Interaksi kami dengan Quran masih sedikit, kami butuh membaca kalam-Mu.
Persoalan hidup kami semakin banyak, kami butuh beritikaf di rumah-Mu.

Ya Allah tolong kabulkanlah.
Ya Allah hati ini rindu Ramadhan.
Mutiara Sirah Nabawiyah ke-13

Awal Turunnya Wahyu

1. Di usia 40 tahun, Muhammad resmi menjadi Rasul utusan Allah. Hal ini ditandai peristiwa yang terjadi di Gua Hira, yaitu turunnya 5 ayat pertama dari QS. Al-Alaq. Kejadian besar ini terjadi pada hari Senin di bulan Ramadhan, seperti yang dijelaskan dalam QS. Al-Baqarah:185.

2. Malaikat Jibril yang menampakkan diri dalam wujud laki-laki mendatangi Muhammad dan berkata, "Bacalah!" sambil memeluk dengan keras. Sementara itu Muhammad menjawab, "Saya tidak bisa membaca." Ini terjadi berulang sampai tiga kali. Bahkan, Muhammad sampai merasakan sesak. Akhirnya, Malaikat Jibril membacakan secara keseluruhan ayat satu sampai lima surat Al-Alaq kepada Muhammad.

3. Peristiwa fisik yang terjadi kepada Muhammad ketika menerima wahyu memiliki peran penting. Sebab, ini dapat menjadi dalil kuat untuk membantah para orientalis dan sejarawan barat yang mengklaim bahwa peristiwa turunnya wahyu tidak benar-benar terjadi. Mereka menganggap Muhammad hanya mendapat ilham atau halusinasi dalam pikirannya. Dengan adanya Hadis sahih yang menjelaskan episode penting ini, justru semakin menguatkan bukti bahwa turunnya wahyu dari Allah adalah nyata. Secara riil, Muhammad bertemu dengan seorang sosok laki-laki dan beliau pun merasakan sesak akibat dipeluk tiga kali.

4. Selain itu, perintah membaca di ayat pertama, sementara Rasulullah tidak bisa membaca dan menulis; justru menguatkan bahwa Al-Quran bukan buatan Muhammad SAW seperti yang sering dituduhkan oleh musuh-musuh Islam.

5. Mengapa wahyu pertama yang turun bukan perintah beribadah atau bertauhid? tetapi justru perintah membaca. Karena proyek apapun agar dapat bertahan dalam jangka waktu panjang perlu diawali dari pengetahuan. Ini mengindikasikan bahwa dalam membangun proyek peradaban Islam, Allah memberikan petunjuk agar pengetahuan dijadikan sebagai pondasinya.

6. Lima ayat pertama dari QS. Al-Alaq terdapat 4 kata berikut: membaca (terulang dua kali), pena, mengajarkan, dan mengetahui. Semua hal ini merupakan elemen-elemen dalam pengetahuan/pendidikan.

7. Reaksi ibunda Khadijah ketika Rasulullah pulang dari Gua Hira memberikan pelajaran berharga bagi kaum perempuan. Istri yang baik ketika melihat suami dalam keadaan takut atau cemas, maka langkah awal yang dilakukan ialah memberikan ketenangan. Khadijah tidak mencecar pertanyaan kepada Rasulullah untuk menjelaskan kejadian yang sebenarnya. Tetapi yang dilakukan justru menyebut kebaikan-kebaikan yang telah dilakukan suaminya sehingga menghadirkan ketenangan. Tidak cukup hanya disitu, setelah melihat suaminya tenang, kemudian Khadijah menawarkan solusi dengan mengajak Nabi Muhammad bertemu Waraqah bin Naufal.

8. Apabila seseorang menghadapi masalah, maka sebaiknya masalah itu tidak dirahasiakan sendiri. Justru dianjurkan mencari orang lain yang dapat dipercaya untuk bisa membantu menyelesaikan masalahnya. Hal ini dimaksudkan agar dapat melegakan jiwa dan mengambil pelajaran dari nasihat orang lain. Dari sini juga terdapat hikmah untuk mencari kriteria pasangan tidak hanya yang baik agamanya, baik silsilah keturunannya, dan kecantikan/ketampanannya. Namun, perlu kriteria pasangan yang menyenangkan dalam mencurahkan isi hati saat ada masalah. Seperti yang ditunjukkan oleh Rasulullah bercerita kepada Khadijah agar terlibat dalam memikul beban dan ikut mencari jalan keluarnya.

Wallahu'alam.

***Dari Mutiara Sirah Nabawiyah ke-13 jika ada pertanyaan atau diskusi bisa disampaikan melalui kolom komentar.
Mari mengingat lagi perasaan di akhir Ramadhan tahun lalu. Saat itu penyesalan datang sebab ibadah terasa masih kurang.

Beberapa waktu lagi, dengan izin Allah kita diberikan kesempatan kedua dalam memaksimalkan ibadah berupa hidangan istimewa nan bergizi:

30 Hari
4 Minggu
720 Jam
43.200 Menit
2.592.000 Detik

Semoga dengan menyantap semua hidangan ini, setelah Ramadhan kita menjadi individu yang semakin sehat, kuat, bermanfaat, menjauhi maksiat, rajin bertaubat, dan rindu akhirat.

Marhaban Yaa Ramadhan...
Alhamdulillah, memasuki Maghrib hari ini pertanda kita telah melewati hari pertama Ramadhan๐Ÿ˜Š๐Ÿคฒ๐Ÿป

Mari bersemangat meraih dua target utama Ramadhan, yaitu ketakwaan dan ampunan Allah.

Rasulullah SAW bersabda:

ยซูˆูŽุฑูŽุบูู…ูŽ ุฃูŽู†ู’ูู ุฑูŽุฌูู„ู ุฏูŽุฎูŽู„ูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ุฑูŽู…ูŽุถูŽุงู†ู ุซูู…ู‘ูŽ ุงู†ู’ุณูŽู„ูŽุฎูŽ ู‚ูŽุจู’ู„ูŽ ุฃูŽู†ู’ ูŠูุบู’ููŽุฑูŽ ู„ูŽู‡ูยป

Sungguh rugi seseorang yang bertemu dengan Ramadhan, lalu Ramadhan berlalu dari dirinya sebelum dosa-dosanya diampuni (HR at-Tirmidzi, Ahmad, Ibnu Khuzaimah dan al-Hakim).

Ampunan Allah SWT pada bulan Ramadhan bisa diraih antara lain dengan menunaikan puasa sebaik-baiknya, mengetahui batasan-batasannya dan menjaga diri dari apa saja yang seharusnya dijaga.

Rasulullah SAW bersabda:

ยซู…ูŽู†ู’ ุตูŽุงู…ูŽ ุฑูŽู…ูŽุถูŽุงู†ูŽ ูˆูŽุนูŽุฑูŽููŽ ุญูุฏููˆู’ุฏูŽู‡ู ูˆูŽุชูŽุญูŽูู‘ูŽุธูŽ ู…ูู…ู‘ูŽุง ูƒูŽุงู†ูŽ ูŠูŽู†ู’ุจูŽุบููŠ ู„ูŽู‡ู ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุชูŽุญูŽูู‘ูŽุธูŽ ูููŠู‡ู ูƒูŽูู‘ูŽุฑูŽ ู…ูŽุง ูƒูŽุงู†ูŽ ู‚ูŽุจู’ู„ูŽู‡ูยป

Siapa saja yang berpuasa Ramadhan, mengetahui ketentuan-ketentuannya dan menjaga apa saja yang harus ia jaga selama Ramadhan, akan dihapus dosa-dosanya yang telah lalu (HR Ahmad).

Wallahu'alam.
Mutiara Sirah Nabawiyah ke-14

Risalah Kenabian

1. Rasulullah ditemani Khadijah bertemu Waraqah bin Naufal. Sebab saat itu dialah salah satu ahli kitab yang ada di Mekkah. Dalam kitab Sahih Bukhari diabadikan perkataan Waraqah ketika menjelaskan peristiwa yang dialami oleh Rasulullah, "Tidak ada orang yang membawa ajaran seperti yang kamu bawa, kecuali dia disakiti."

2. Perkataan Waraqah ini memiliki arti bahwa seorang dai pasti akan menghadapi rintangan dalam perjalanan dakwahnya. Karena memang seperti itu karakter dakwah, yaitu pertempuran antara kebenaran dan kebatilan. Hal ini yang dialami oleh para nabi seperti dijelaskan dalam QS. Al-Furqan: 31. Sehingga seorang dai harus menyiapkan dirinya untuk selalu bersabar.

3. Kemudian Rasulullah mengalami masa vakum turunnya wahyu dalam waktu beberapa hari. Pada masa ini, Rasulullah dirundung kesedihan yang mendalam dan diselimuti kebingungan. Karena tidak ada sama sekali petunjuk yang menjelaskan peristiwa besar yang dialaminya.

4. Maksud adanya jeda turunnya wahyu diantaranya: agar rasa takut Rasulullah perlahan menghilang, supaya muncul kerinduan dalam diri Rasulullah terhadap wahyu, dan juga menjadi bukti bahwa wahyu bukan berasal dari pribadi beliau. Setelah kondisi Rasulullah mulai tenteram dan memiliki kesiapan untuk tegar menghadapi situasi, maka datanglah Malaikat Jibril membawa wahyu berikutnya.

5. Dalam hadisnya Rasulullah bersabda, "Ketika saya berjalan tiba-tiba saya mendengar suara dari langit. Akhirnya saya melihat ke atas, ternyata malaikat yang telah mendatangi saya di Gua Hira sedang duduk di atas kursi antara langit dan bumi, saya takut dan kembali ke rumah sambil berkata kepada istrinya, "Selimuti aku", kemudian Allah menurunkan ayat QS. Al-Muddatsir: 1-5.

6. Dalam wahyu yang baru turun tersebut terdapat perintah Allah kepada Rasulullah untuk bangkit dari selimutnya dan memberikan peringatan kepada manusia. Ini merupakan perintah untuk berdakwah menyampaikan kebenaran dari ajaran Islam. Sejatinya ini bukan hanya perintah khusus bagi Muhammad saja, tetapi juga bagi seluruh umatnya.

7. Perlu diingat, wahyu pertama surat Al-Alaq berisi prinsip-prinsip pendidikan, kemudian wahyu kedua surat Al-Muddatsir terdapat perintah berdakwah. Semua ini mengisyaratkan bahwa pengetahuan yang sudah diperoleh perlu ditunaikan haknya dengan diamalkan dan disebarkan kepada orang lain.

8. Seakan-akan Allah mengatakan kepada Rasulullah bahwa sesungguhnya orang yang hanya hidup untuk kepentingan dirinya sendiri bisa saja hidup tenang dan nyaman. Sedangkan engkau Muhammad harus memikul beban yang besar ini sebab sudah terpilih sebagai Nabi. Sehingga bagaimana mungkin engkau tidur? bagaimana mungkin engkau istirahat? bagaimana mungkin engkau menikmati ketenangan dan kesenangan yang membuaikan? Maka, bangkitlah Rasulullah menyampaikan dakwah dengan semua ujian dan rintangannya selama kurang lebih 23 tahun.

Wallahu'alam.

***Dari Mutiara Sirah Nabawiyah ke-14 jika ada pertanyaan atau diskusi bisa disampaikan melalui kolom komentar.
Mutiara Sirah Nabawiyah ke-15

Hubungan Rasulullah Dengan Masjidil Aqsha

1. Di antara wahyu yang turun di periode awal fase Makkah ialah QS. Al-Muzzammil. Surat ini berisi perintah kepada Nabi untuk melakukan solat sepanjang malam kecuali hanya sedikit di akhir malam. Ini yang menyebabkan, dalam sebuah hadis sahih, ibunda Aisyah menggambarkan kaki Nabi bengkak akibat lama berdiri untuk solat malam.

2. Jadi perintah solat sudah ada jauh sebelum peristiwa Isra Mi'raj. Namun, waktu pelaksanaannya belum lima waktu. Beberapa riwayat menyebutkan solat pada periode awal kenabian dilaksanakan tiga waktu: pagi, sore, dan malam. Jika Rasulullah dan para sahabat sudah melaksanakan solat, maka tentunya ada arah kiblat. Menurut Hadis sahih yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, arah kiblat Nabi ketika di Makkah yakni mengarah ke Masjidil Aqsha.

3. Rasulullah terhubung dengan Masjidil Aqsha sudah sejak awal periode kenabian sebagai arah kiblatnya. Perasaan beliau terhadap Masjidil Aqsha sama seperti perasaan kita sekarang terhadap Kabah. Bagi yang sudah Allah izinkan pergi haji atau umroh akan paham bagaimana rasanya bisa melihat secara langsung Kabah, yang menjadi arah kiblat solat kita lima kali sehari. Hal yang sama dirasakan oleh Rasulullah selama di Makkah rindu ingin melihat langsung kiblatnya.

4. Saat ini kita hidup di zaman yang sama dengan Rasulullah, yaitu ketika kondisi Masjidil Aqsha sedang dijajah. Ketika Rasulullah hidup, Masjidil Aqsha sedang dijajah bergantian, sempat oleh Romawi kemudian diambil alih oleh Persia (lihat QS. Ar-Rum:1-5). Sementara saat ini kita hidup ketika Masjidil Aqsha sedang dijajah oleh Zionis "Israel".

5. Pada tahun kesepuluh kenabian, Allah memperjalankan Rasulullah ke kiblat solatnya dalam peristiwa maha dahsyat, Isra Mi'raj (lihat QS. Al-Isra:1). Bagi Allah mudah jika ingin memperjalankan Nabi dari Makkah langsung ke langit ke-7. Tetapi, Allah berkehendak untuk men-transit-kan terlebih dahulu Rasulullah ke Masjidil Aqsha sebelum perjalanan ke langit. Hal ini mengindikasikan bahwa kiblat pertama umat Nabi Muhammad ini merupakan lokasi penting yang tidak boleh terlepas dari perhatian Umat Islam.

6. Rasulullah selama hidup lebih lama durasinya solat menghadap Masjidil Aqsha dibandingkan ke Kabah. Perintah pemindahan arah kiblat, yang tercantum pada QS. Al-Baqarah: 144, turun pada waktu Nabi Muhammad sudah di Madinah. Sebuah hadis menginformasikan bahwa arah kiblat berubah 16 atau 17 bulan setelah hijrah atau kurang lebih 1,5 tahun. Maka, bisa dikalkulasi bahwa Nabi solat menghadap ke Masjidil Aqsha selama 14,5 tahun (13 tahun di Makkah + 1,5 tahun di Madinah). Ini artinya lebih dari setengah periode kenabian, Rasulullah solat menghadap Masjidil Aqsha.

7. Seperti halnya ketika salah satu dari tiga anak kita ada yang sakit, maka kita akan mencurahkan perhatian kepada satu anak itu sampai sembuh. Alhamdulillah saat ini dua masjid suci Umat Islam, Masjidil Haram dan Masjid Nabawi dalam keadaan aman. Namun, Masjidil Aqsha sudah lebih dari 1 abad kondisinya terjajah, bahkan dinistakan oleh tentara Zionis. Sudah seharusnya saat ini kita mencurahkan perhatian kita ke Masjidil Aqsha yang "sedang sakit" dan ikut berusaha untuk menyembuhkannya.

Wallahu'alam.

***Dari Mutiara Sirah Nabawiyah ke-15 jika ada pertanyaan atau diskusi bisa disampaikan melalui kolom komentar.
Mutiara Sirah Nabawiyah ke-16

Fase Dakwah Rahasia

1. Setelah Rasulullah menerima wahyu, maka dimulailah dakwah secara sembunyi-sembunyi. Fase ini berlangsung selama kurang lebih tiga tahun pertama. Selama kurun waktu tersebut total yang masuk Islam sebanyak 40 orang laki-laki dan perempuan.

2. Proses awal dakwah di fase ini menghasilkan masuk islamnya empat orang terdekat, yaitu Khadijah, Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Haritsah, dan Abu Bakar. Keempat orang ini mewakili beberapa kalangan: perempuan, anak-anak, laki-laki dewasa, keluarga, sahabat dekat, pengusaha, dan hamba sahaya. Namun, kesemuanya mengerucut dalam satu kategori yaitu orang yang dapat dipercaya.

3. Hikmahnya ialah dalam merintis sebuah proyek besar modal utamanya berupa orang-orang yang paling dapat dipercaya. Sebab tantangan terbesar sebuah perkumpulan/organisasi adalah pengkhianatan. Apalagi dakwah Rasulullah masih dalam tahap perintisan di Mekkah.

4. Beberapa alasan dakwah Rasulullah dilakukan secara rahasia: 1) Agar tidak mengejutkan warga Mekkah yang masih menganut kemusyrikan, sehingga tidak sekaligus mengagetkan dan mengganggu eksistensi mereka. Sebab jika mereka merasa terusik, bisa saja mereka memberontak dan menyerang dakwah yang berusia masih sangat muda. Hal ini berbahaya bagi eksistensi dakwah di masa yang akan datang. 2) Agar barisan dakwah memperoleh orang-orang terpilih yang setia terhadap agenda dakwah yang dibawa oleh Rasulullah dan juga siap membela jika ada pihak-pihak yang mengancam.

5. Islam sangat memuliakan posisi perempuan. Hal ini dapat dilihat dari manusia pertama yang menjadi sasaran dakwah dan menerima seruan Islam ialah Khadijah istri Nabi. Ditambah lagi kemuliaan manusia yang pertama syahid di jalan Allah dalam fase awal dakwah Mekkah ialah seorang hamba sahaya perempuan, Sumayyah.

6. Salah satu karakter pemuda yang sanggup memikul beban dakwah yaitu yang dapat menjaga rahasia. Ali bin Abi Thalib masuk Islam ketika berusia 10 tahun. Bisa dibayangkan anak seusia Ali sangat sulit untuk menjaga rahasia. Namun, Rasulullah mempercayakan amanah besar tersebut kepadanya dan dia berhasil menjalankan tugasnya.

7. Abu Bakar merupakan sahabat Rasulullah yang menerima dakwah Islam tanpa keraguan sedikit pun. Sebab Abu Bakar sudah mengenal baik pribadi Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari. Inilah pelajaran dakwah dari Rasulullah yaitu, "Mahabbah Qoblal Hujjah" = cinta sebelum logika atau dalil. Pesona pribadi jauh lebih mengena hati daripada seribu bukti. Sehingga penting bagi para penyeru dakwah untuk menjaga reputasi diri di tengah masyarakat.

8. Abu Bakar mencontoh Rasulullah dalam berdakwah dengan memanfaatkan reputasi baik dan statusnya di kalangan kaum Quraisy. Sebab Abu Bakar merupakan orang terpandang, ahli sejarah, penceramah yang memiliki banyak pendengar, dan juga pengusaha sukses. Sehingga wajar jika orang-orang yang berhasil direkrutnya bukan orang sembarangan seperti: Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, Zubair bin Awwam, Talhah bin Ubaidillah, dan Saad bin Abi Waqqash.

Wallahu'alam.

***Dari Mutiara Sirah Nabawiyah ke-16 jika ada pertanyaan atau diskusi bisa disampaikan melalui kolom komentar.
Mutiara Sirah Nabawiyah ke-17

Fase Dakwah Terbuka

1. Periode ini ditandai dengan turunnya wahyu QS. Al-Hijr: 94 dan QS. Asy-Syu'ara: 214-215. Setiap tahapan dakwah membutuhkan para pemikul beban yang berbeda-beda. Jika sebelumnya di fase dakwah secara rahasia dibutuhkan orang yang terpercaya, maka di fase ini Rasulullah mulai mengajak keluarga terdekatnya.

2. Bagi sebuah proyek baru, keluarga terdekat dibutuhkan sebagai pendukung utama. Sebab jangan sampai lingkaran terdekat malah menjadi penghalang atau bahkan menjadi penolak utama. Rasulullah mendapatkan perlindungan utama dari pamannya sendiri, Abu Thalib.

3. Salah satu hikmah Abu Thalib tidak mengikuti ajaran Islam merupakan pengaturan dari Allah dalam memberikan perlindungan kepada Rasul-Nya. Selain itu, karena keyakinan Abu Thalib masih sama dengan Quraisy, maka kaumnya tetap menghormati dan mau mendengarkan alasan melindungi dakwah keponakannya. Hikmah lainnya adalah bahwa hidayah memang merupakan ranah prerogatif Allah, hingga akhir hayatnya dengan semua kontribusi Abu Thalib, beliau tetap tidak memeluk Islam.

4. Keamanan yang diberikan Abu Thalib kepada Rasulullah memberikan pelajaran tentang bolehnya menerima bantuan dari non-muslim kalau memang dibutuhkan untuk kemaslahatan yang lebih besar dan tentunya harus dengan syarat-syarat tertentu.

5. Peristiwa Rasulullah mengajak kaum Quraisy kepada Islam dengan berkhutbah di Bukit Shafa merupakan metode komunikasi yang cerdas dengan berkata, "Bagaimana pendapat kalian apabila aku memberi tahu bahwa ada pasukan berkuda di lembah gunung ini yang akan menyerang, apakah kalian akan mempercayaiku? Mereka berkata, "Belum pernah kami mendengar atau melihat kamu berbohong." Pada saat itu beliau melanjutkan menyampaikan inti pesannya, "Saya adalah Nabi yang diutus untuk kalian sebelum datangnya siksaan yang pedih."

6. Beliau mengawali ajakan dengan menggunakan reputasi baik dirinya dalam hal kejujuran. Ketika kaumnya sudah mengamini bahwa beliau sebagai orang yang bisa dipercaya, lalu pembicaraan diarahkan ke pernyataan yang tidak bisa mereka bantah, yaitu ketika Nabi Muhammad menjelaskan bahwa beliau seorang Nabi dan mengajak kepada Islam.

7. Tahapan dakwah secara terang-terangan ini mengajarkan kepada kita metodologi dalam berdakwah. Bahwa ajaran Islam tidak sebatas hanya ibadah antara seorang hamba dengan tuhannya di ruang privat, melainkan Islam harus dibawa ke ruang publik. Namun, di sisi lain harus siap dengan risiko mendapat cibiran, hinaan, atau bahkan teror fisik seperti yang dilakukan suku Quraisy kepada Nabi.

8. Di zaman sekarang nilai-nilai Islam harus mewarnai keseharian kita di ranah publik dalam berbagai bidang seperti: kedokteran, perbankan, perdagangan, manajemen, politik, menjaga lingkungan, dsb. Islam harus mempesona sebanyak mungkin orang di luar sana dengan profesionalisme dan produktivitas yang tinggi sehingga semakin banyak yang tertarik dengan agama ini. Maka tidak heran ketika Quraisy coba membujuk Abu Thalib untuk menahan laju dakwah secara terang-terangan, Rasulullah bereaksi dengan tegas: "Demi Allah andaikan mereka menaruh mentari di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan urusan ini sampai Allah menolongnya atau aku binasa karenanya, sungguh tak akan kutinggalkan dakwah ini."

Wallahu'alam.

***Dari Mutiara Sirah Nabawiyah ke-17 jika ada pertanyaan atau diskusi bisa disampaikan melalui kolom komentar.
Mutiara Sirah Nabawiyah ke-18

Hijrah Pertama Dalam Islam

1. Peristiwa ini terjadi di tahun ke-5 kenabian untuk mencari alternatif lokasi dakwah lain yaitu di Habasyah (Ethiopia). Hal ini dilakukan sebagai ikhtiar untuk menyelamatkan agama akibat ancaman Quraisy semakin membahayakan. Rasulullah mempersiapkan rencana cadangan jika sewaktu-waktu Islam harus menghadapi risiko terburuk. Kita mendapat pelajaran berharga bahwa salah satu syarat Islam dapat berkembang dengan baik yaitu adanya keamanan dan ketenangan dalam beribadah. Karena dengan begitu umat Islam bisa dengan leluasa menampilkan karakter Islam di tengah masyarakat, sehingga masyarakat umum bisa menilai sendiri praktik Islam dalam keseharian. Contoh nyatanya di Indonesia, Islam masuk dengan jalan damai menyebabkan saat ini menjadikan jumlah muslim terbesar di dunia.

2. Hijrah bukan perkara mudah sebab sangat besar tantangannya diantaranya: meninggalkan tanah air, jauh dari sanak saudara, perjalanan yang berbahaya, dan perlu beradaptasi di lingkungan baru dengan bahasa yang berbeda. Namun, Rasulullah perlu meyakinkan kepada pengikutnya betapa pentingnya hal ini untuk masa depan Islam, yaitu dengan cara mengikutsertakan keluarga terdekat yaitu: menantunya Utsman bin Affan, sepupunya Ja'far bin Abu Thalib, dan bahkan anak kandungnya sendiri Ruqayyah. Rasulullah memberikan contoh bagi seorang pemimpin dalam menyukseskan rencananya tidak hanya sekadar beretorika tanpa aksi, tetapi juga ikut memberikan kontribusi nyata bahkan sebagai pelopor pertama kali.

3. Dipilihnya Habasyah untuk hijrah merupakan pemahaman yang utuh dari Rasulullah atas geopolitik dan kelemahan dari Quraisy. Habasyah dibandingkan wilayah lain di sekitar Arab relatif lebih independen dalam hal afiliasi politik. Jika di Syam dan Mesir berada di bawah pengaruh Romawi, sementara Yaman merupakan subordinat dari kekuasaan Persia. Sehingga Rasulullah bisa menjamin keselamatan umat Islam di sana ditentukan oleh rajanya yang adil bernama Najasyi. Ditambah lagi, penduduk dan raja Habasyah memeluk agama Nasrani sebagai salah satu agama samawi yang paling dekat pemahamannya dengan Islam.

4. Quraisy merupakan suku yang hidupnya sangat bergantung dari perdagangan, sebab alam Mekkah tidak memungkinkan untuk mengembangkan pertanian. Faktanya, Quraisy memiliki hubungan dagang yang kuat dengan Habasyah. Sehingga Rasulullah memahami jika suatu saat Quraisy melakukan sesuatu kepada umat Islam di Habasyah yang bisa membuat hubungan dengan Najasyi menjadi terganggu. Maka, salah satu efeknya bisa saja Habasyah memboikot perdagangannya dengan Mekkah. Pelajaran lain yang bisa diambil ialah salah satu bekal pemimpin perlu memilki pengetahuan yang baik atas kelemahan lawan. Meskipun belum ada konfrontasi secara langsung dengan Quraisy, Rasulullah sudah memperhitungkan cara menyerang balik pihak lawan.

5. Orang-orang yang dikirim hijrah ke Habasyah sudah dipikirkan matang-matang oleh Rasulullah. Sebagian diantara mereka merupakan tokoh penting perwakilan kabilah-kabilah dari suku Quraisy. Rasulullah dengan sangat baik menggunakan rasa kesukuan yang sangat kental dalam budaya Quraisy sebagai alat untuk kemaslahatan dakwah Islam. Hal ini yang membuat goncangan di internal suku Quraisy ketika diantara pemimpin kabilah berdebat untuk menyerang kaum Muslimin yang hijrah, namun di sisi lain ada sanak saudara mereka yang ikut di dalamnya.

6. Kekhwatiran kaum Quraisy atas hijrahnya umat Islam ke Habasyah membuktikan hal ini merupakan perkara atas dasar agama. Sebab jika perseturuan ini atas dasar pribadi, maka Quraisy dengan senang hati merelakan mereka yang pergi dari Mekkah. Tetapi, Quraisy justru merasa terancam dengan hijrahnya umat Islam, bahkan mereka mengirim diplomat terbaiknya untuk menjemput kaum Muslimin di Habasyah. Sebab bagi Quraisy jika Islam semakin berkembang di Habasyah, bisa berpeluang menyebar ke wilayah lain seperti Yaman atau Syam. Hal ini bisa menjadi ancaman kekuasaan Makkah yang posisinya berada di tengah-tengah jazirah Arab.
7. Rasulullah sudah memilki visi besar peradaban jauh sebelum mendirikan negara di Madinah. Beliau paham geopolitik di sekitar dataran Arab sehingga memahami negara atau raja mana saja yang bisa menolong atau mendukung dakwah Islam. Kemampuan seperti ini yang perlu dimiliki oleh seorang pemimpin muslim untuk memahami dengan baik karakter masyarakat dan kondisi di sekitar wilayah kekuasaan kita untuk menjamin keberlangsungan dakwah Islam.

Wallahu'alam.

***Dari Mutiara Sirah Nabawiyah ke-18 jika ada pertanyaan atau diskusi bisa disampaikan melalui kolom komentar.
Mutiara Sirah Nabawiyah ke-19

Hamzah dan Umar: Dua Pahlawan yang Mengubah Islam

1. Berimannya Dua Tokoh Quraisy

Berimannya dua tokoh Quraisy ini mengubah wajah dakwah Islam di Makkah. Kejadian ini berlangsung pada tahun ke-6 kenabian, dimulai dengan masuk Islamnya paman Nabi, Hamzah bin Abdul Muthalib. Enam hari kemudian, Umar bin Khattab juga memeluk Islam. Peristiwa ini terjadi saat umat Islam dalam kondisi kritis, dengan kaum Quraisy semakin berani melakukan penganiayaan dan bahkan percobaan pembunuhan terhadap Rasulullah SAW. Keislaman dua tokoh besar ini merupakan bentuk pertolongan Allah untuk melindungi dakwah Islam di Makkah.

2. Peristiwa Berimannya Hamzah

Hamzah memeluk Islam setelah mendengar bahwa keponakannya, Muhammad SAW, baru saja disiksa dan dimaki dengan sangat kasar oleh Abu Jahal. Hamzah merasa Abu Jahal telah menghina keturunan Bani Hasyim. Ia segera mencari Abu Jahal di sekitar Kaโ€™bah dan memukul kepalanya dengan busur panah hingga terluka. Tidak hanya itu, Hamzah spontan berkata, "Engkau berani mencaci maki keponakanku, padahal aku telah memeluk agama Muhammad?โ€

3. Pertentangan Batin Hamzah

Dalam budaya Arab saat itu, berdusta adalah aib besar. Hal ini membuat Hamzah bimbang dengan perkataannya. Awalnya, ia hanya ingin membuat Abu Jahal marah, tetapi ia menyadari konsekuensi ucapannya sangat berat. Setelah merenung, dengan izin Allah, Hamzah bertemu Rasulullah SAW dan menerima Islam.

4. Perlawanan terhadap Kejahatan

Terkadang, perlawanan atas kejahatan bisa datang dari kelompok mereka sendiri. Ketika kezaliman sudah terang-terangan dilakukan di depan umum, insan yang hati nuraninya hidup akan bangkit membelanya. Fitrah manusia akan selalu mendukung kebenaran dan menolong yang tertindas. Prinsip ini bisa diterapkan dalam merespon pembantaian yang terjadi di Gaza. Tugas kita adalah terus menginformasikan seluas mungkin ke publik tentang kejahatan Zionis. Contohnya, kampus-kampus unggulan di Amerika yang berafiliasi dengan Zionis, dosen dan mahasiswanya bersuara membela Palestina. Juga negara-negara Barat seperti Irlandia, Spanyol, dan Norwegia kini menyadari kebiadaban Zionis dan mendukung kemerdekaan Palestina.

5. Awal Mula Keislaman Umar

Awal mula keislaman Umar dipicu kemarahan karena adik perempuannya masuk Islam. Ketika ia hendak masuk ke rumah adiknya, terdengar lantunan kalamullah dari dalam rumah. Hatinya melunak. Umar terpaku kagum di hadapan mushaf Al-Quran. Surat Taha perlahan memenuhi relung hatinya. Umar terdiam sejenak lalu berkata, "Alangkah indah dan mulianya kalam ini! Kalau begitu, tolong bawa aku ke hadapan Muhammad!" Akhirnya, Umar mengucap dua kalimat syahadat di hadapan Nabi Akhir Zaman.

6. Permusuhan terhadap Islam

Permusuhan seseorang terhadap Islam bisa jadi karena pesan kebenaran belum tersampaikan secara langsung. Banyak penghalang dan distorsi informasi dari sumber utama, sehingga muncul prasangka. Bahkan, tidak sedikit yang menafsirkan Islam secara pribadi padahal jauh dari fakta sebenarnya. Di era kontemporer, Islamofobia di dunia Barat disebabkan arus informasi yang tidak berimbang. Beruntung, di era Media Sosial, akses informasi menjadi setara tanpa kasta. Informasi tidak lagi dimonopoli kantor-kantor berita besar saja, tetapi juga dapat diakses oleh banyak pihak. Maka, biarkan info secara adil sampai ke telinga masing-masing orang. Kelak nurani manusia yang akan mengkritisi dan menilai kebenaran yang hakiki.

7. Pengaruh Hamzah dan Umar dalam Islam

Nama Hamzah dan Umar tercatat dalam sejarah mengubah Islam menjadi semakin kuat dan para pengikutnya bisa menampakkan identitas serta aktivitasnya di ranah publik. Seperti itulah sejatinya Islam. Dia mengarahkan potensi pribadi demi kemaslahatan yang lebih tinggi.

Wallahu'alam.

***Menurut teman-teman, apalagi mutiara yang bisa diambil dari edisi ke-19 ini? kita lanjut diskusi di kolom komentar ya.
Mutiara Sirah Nabawiyah ke-20

Pemboikotan Kaum Muslimin di Mekkah

1. Penyebab utama

Setelah masuk Islamnya Hamzah dan Umar, perkembangan Islam di Mekkah semakin tak terbendung. Kaum Quraisy kewalahan menahan gerak dakwah Islam di masyarakat. Sementara itu, Rasulullah SAW mendapat perlindungan keluarganya dari kabilah Bani Hasyim dan Bani Muthalib. Maka Quraisy melakukan negosiasi dengan Rasulullah dan Abu Thalib untuk membatasi pengaruh Islam di Mekkah. Namun, hasilnya tetap tidak sesuai dengan keinginan mereka. Pada akhirnya Quraisy bersepakat untuk memboikot umat Islam tidak hanya dalam hal ekonomi, tetapi juga sosial. Peristiwa ini terjadi di tahun ke-7 kenabian.

2. Pemboikotan

Nabi Muhammad SAW dan umat Islam harus bersabar menjalani boikot panjang selama 3 tahun di lembah Abu Thalib. Mereka tidak diperkenankan menjual dan membeli barang kebutuhan hidup dari kabilah lain. Juga dilarang berkomunikasi dan menikah dengan kabilah lain. Di masa-masa berat inilah ibunda Khadijah dan Abu Thalib kondisi kesehatannya menurun akibat terbatasnya makanan, minuman, dan keperluan lainnya. Kalau pun ada bahan makanan hanya sedikit diperoleh dari beberapa kalangan Quraisy yang bersimpati. Hal tersebut menyebabkan di tahun ke-10 kenabian, setelah selesai fase pemboikotan, istri dan juga paman Rasulullah SAW wafat dalam waktu berdekatan. Para sejarawan menyebut periode waktu tersebut sebagai tahun kesedihan.

3. Intimidasi

Jika diskusi persuasif tidak menemui jalan keluar, maka musuh kebaikan akan melakukan ancaman berupa intimidasi keamanan dan jiwa untuk menghentikan proyek kebaikan. Prinsip ini berlaku di zaman sekarang, saat kita akan memulai suatu ide/gagasan/program kebaikan di masyarakat, ada kemungkinan akan menerima tekanan dari pihak-pihak yang tidak senang. Dalam menghadapi tekanan Quraisy, Rasulullah SAW mengambil keputusan besar dalam bentuk ikhtiar bersabar merasakan pahitnya pemboikotan, karena posisi umat Islam saat itu masih belum mapan untuk melakukan perlawanan.

4. Kesabaran sebagai sebuah startegi

Nabi Muhammad SAW memahami betul karakter Quraisy yang sangat setia terhadap sesama anggota sukunya. Ini yang beliau sudah kalkulasi dengan berharap ada dari penduduk Mekkah yang bersimpati terhadap kondisi umat Islam. Maka keputusan beliau untuk menjalani pemboikotan bukan sebuah bentuk kesabaran yang pasif, melainkan bagian dari strategi untuk keluar dari tekanan Quraisy. Sebab efek yang muncul dari pemboikotan ini, yaitu citra Quraisy menjadi buruk di mata suku-suku arab lain. Hal ini menyebabkan Quraisy mendapat tekanan untuk segera menghentikan pemboikotan. Salah satunya datang dari dalam suku Quraisy sendiri yang dikomandoi oleh 5 orang: Hisyam bin Amru, Zuhair bin Abui Umayyah, Muth'im bin Adi, Abu al-Bukhturi, dan Zam'ah bin al-Aswad. Mereka berhasil membentuk opini publik bahwa pemboikotan sebuah kezaliman yang perlu segera dihentikan. Setelah sempurna ikhtiar, doa, dan tawakal yang dilakukan oleh Rasulullah SAW, pada akhirnya datang pertolongan Allah yang mengirimkan rayap untuk memakan piagam boikot yang terletak di Kabah.

5. Respon terhadap kezaliman

Pemboikotan ini berakhir dengan pecahnya persatuan Quraisy dan terjadi perbedaan pendapat diantara mereka. Sebab kezaliman yang diperlihatkan secara terang-terangan pada dasarnya akan mengundang simpati dari banyak pihak. Salah satu prinsip yang bisa kita lakukan saat melihat kezaliman di depan mata, yaitu dengan menyebarluaskan info ke khalayak umum terkait fakta sebenarnya yang terjadi. Harapannya agar sebanyak mungkin orang yang mendengar berita tersebut, dan di saat yang sama masih memiliki nurani, akan bergerak untuk menghentikan kezaliman. Hal ini sudah terbukti, seperti sekarang meskipun banyak negara Barat yang mendukung kebrutalan Zionis, namun banyak rakyat dari negara-negara tersebut masih terus aktif berdemonstrasi menyuarakan untuk segera diberlakukannya gencatan senjata dan mendukung sepenuhnya kemerdekaan Palestina.

6. Rasulullah sebagai teladan pemimpin

Peristiwa ini menggambarkan keteladanan Rasulullah SAW dalam memperjuangkan Islam.
Beliau tidak hanya memberi teladan dalam waktu senang saja, tapi juga pada saat menghadapi kondisi yang sangat pahit. Jika menghendaki, Rasulullah SAW dan Ibunda Khadijah, sebagai orang terpandang di Mekkah, bisa saja mendapat perlakuan khusus selama boikot terjadi. Namun, beliau memilih memosisikan dirinya sama seperti umat Islam lainnya merasakan penderitaan selama 3 tahun. Modal dasar seorang pemimpin adalah keteladanan. Pihak yang dipimpin akan memberikan rasa hormat kepada pemimpin yang hidup bersama rakyat dan memperjuangkan aspirasi rakyatnya. Hasilnya, rakyat dengan senang hati mendukung penuh ajaran/ide/gagasan yang dibawa oleh pemimpinnya.

7. Perlawanan secara ekonomi

Peristiwa pemboikotan ini mengajarkan kepada kita bahwa boikot ekonomi dalam peperangan dapat melumpuhkan pihak lawan. Meskipun konteks dalam episode sirah kali ini umat Islam yang menjadi korban pemboikotan, namun di sisi lain hal ini bisa menjadi inspirasi bagi kita untuk menjadi pelaku yang melancarkan strategi pemboikotan terhadap musuh. Seperti yang sedang dilakukan oleh umat Islam di seluruh dunia memboikot produk-produk yang berafiliasi dengan Zionis. Hal ini sebagai bentuk konkrit sebuah perlawanan ekonomi yang bisa dilakukan untuk melemahkan musuh.

Wallahu'alam.

***Menurut teman-teman, apalagi mutiara yang bisa diambil dari edisi ke-20 ini? Kita lanjut diskusi di kolom komentar ya.
2025/04/05 09:11:58
Back to Top
HTML Embed Code: